4 my nation

4 my nation

Kamis, 27 Oktober 2011

Makalah: Sistem Budaya Masyarakat Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kabudayaan dapat dikatakan bersifat adaptif, karena kebudayaan itu sendiri melengkapi manusia dengan cara penyesuaian diri pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis dan penyesuain diri dengan lingkungan, baik yang bersifat fisik geografis maupun lingkungan sosial tempat hidupnya. Kegiatan tersebut mengisyaratkan bahwa kebudayaan selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan tertentu pada lingkungan masyarakat tertentu berdasar kebutuhannya. Dengan kata lain hubungan antara manusia dengan lingkungan dijembatani oleh kebudayaan yang dimilikinya. Di samping itu, kebudayaan merupakan hasil sarana untuk menyesuaikan diri pada lingkungan sosial, misalnya perubahan-perubahan ekonomi dan kesempatan dalam bidang sosial yang secara tidak langsung ataupun langsung merangsang munculnya tata kelakuan baru yang pada akhirnya pola-pola tersebut menjadi milik bersama dan terwujud dalam proses adaptasi dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Sukahaji terletak di wilayah Kabupaten Majalengka Propinsi Jawa Barat. Seperti daerah lainnya masyarakat Sukahaji mayoritas merupakan penduduk asli di sana dan mempunyai budaya yang dimiliki oleh mereka. Adanya perubahan-perubahan yang yang terjadi dapat dipengaruhi oleh aspek kehidupan masyarakatnya sendiri. Selain itu, cukup menarik jika kita mengkaji bagaimana kenyataan hubunga antara masyarakat dengan budaya yang saling beriringan. Berdasarkan dasarkan permasalah di atas, kami mencoba menjelaskan bagaimana kehidupan budaya masyarakat Sukahaji. Adapun Judul yang akan diambil “Sistem Budaya Masyarakat Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka” 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penulisan makalah ini sebagai berikut: 1. Bagaimana latar belakang masyarakat Sukahaji? 2. Bagaimana tujuh unsur kebudayaan yang terdapat di Sukahaji? 1.3. Tujuan Penulisan Adapun yang menjadi tujuan penulisan sebagai berikut: 1. Menjelaskan bagaimana latar belakang masyarakat Sukahaji. 2. Menjelaskan tujuah unsur kebudayaan yang terdapat di Sukahaji. 1.4. Teknik Penulisan Teknik yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu menggunakan studi literatur yakni mengkaji beberapa buku yang relevan dengan masalah yang sedang di kaji. 1.5. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang 1.2. Perumusan Masalah 1.3. Tujuan Penulisan 1.4. Teknik Penulisan 1.5. Sistematika Penulisan Bab II Kebudayaan Masyarakat Sukahaji 2.1. Latar Belakang 2.2. Tujuh Unsur Kebudayaan Masyarakat Sukahaji Kesimpulan BAB II KEBUDAYAAN MASYARAKAT KECAMATAN SUKAHAJI 2.1. Latar Belakang Terkadang berawal dari sebuah legenda kemudian dalam perkembangannya dianggap sebagai sejarah, misal Desa Sukahaji, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Yaitu desa yang diperkirakan berasal dari suatu wilayah pemerintahan setingkat kademangan yang berdiri pada masa transisi dari Hindu ke Islam antara tahun 1072 - 1572 yang disebut Negara Tanjung Melayu, beribukota di Sukahaji Girang. Sebelum masa transisi Hindu-Islam, negara ini pernah pula mengalami masa transisi (Hindu-Budha), dengan tampuk pemerintahan (raja/pangeran), yaitu (1) Pangeran Sutawijaya di Koncangan; (2) Pangeran Mangkubumi di Batu Tumpeng; (3) Dedegjaya di Tatajuran; dan (4) Pangeran Reregjaya di Tajuran; serta (5) Pangeran Heulang Barang di Calados. Menurut cerita orang di Desa Sukahaji, telah ditemukan beberapa bukti sejarah berupa Batu Bale (balai desa), dan Batu Tumpeng (tempat pemujaan). Keduanya sebagai bagaian dari peninggalan sejarah penduduk yang saat itu sedang mengalami transisi perkembangan Hindu-Budha. Sumber lain menceritakan, bahwa di tempat tersebut pada masa embah (pangeran) Sukawetan sebagai raja Hindu-Budha terakhir Negara Tanjung Melayu, telah datang ajaran Islam yang dibawa oleh Syekh Haji Abdullah keturunan dari Mekah yang diutus oleh Syekh Sayrif Hidayatullah (1552-1570) untuk menyebarkan ajaran Islam. Tetapi cerita tersebut sebenarnya perlu pengkajian mendalam, sebab terdapat alur berbeda-beda. Di antaranya ada pula yang memeperkirakan Haji Abdullah sebagai utusan dari mataram yang berada dalam pemerintahan Sultan Agung untuk menyerang Batavia yang dikuasai oleh VOC (1620-1629). Sebagai bukti bahwa ia dari kalangan Mataram, yaitu dengan diketemukannya pohon bambu kuning di Palabua. Kehadiran Syekh yang berupaya menyebarkan ajaran Islam, ternyata mendapat perlawanan dari pangeran Sindang Entang (Sukawetan). Bukti pernah terjadi pertempuran, yaitu dengan adanya Sedekan di pinggir Sungan Cikeuruh, Mojok di sudut Desa Cikeusik, makam Cagedang bekas Masuk Bumi, dan Munjul (Desa Munjul sekarang), sehingga Pangeran Sindang Entang tidak kuat dan menyerah, yang akhirnya menyukai Syekh Haji Abdullah, bahkan Syekh dijadikan sebagai menantu Pangeran. Dari perasaan suka itulah Tanjung Melayu dinamakan Sukahaji. Tetapi, Pangeran merasa keberatan apabila ia diislamkan oleh Syekh , kecuali oleh Raja Cirebon, ia tidak ke Sukahaji tetapi ke Sukaraja sekarang, dan karena itulah tempat tersebut dikenal dengan nama Desa Sukaraja. Ada beberapa makam yang dianggap sebagai leluhur Desa Sukahaji, yaitu Makam Embah Sukawetan di Cageudang dekat Gunung Embe di pinggir Sungai Cikeuruh, Makam Embah Haji Abdullah di tengah sawah jalan Tarikolot, Makam Embah Raksawadana di Krapyak Tarikolot, dan Makam Embah Pasirlangu, serta makam Embah Lebe Dalem di Lebe Dalem bawah Pasirlangu. Setelah Haji Abdullah wafat, berturut-turut yang memerintah di Sukahaji bergelar kuwu atau kepala desa. Tetapi untuk menentukan kapan hari jadi Sukahaji belum dapat jawaban, apalagi baru bersumber dari suatu cerita rakyat (legenda). Ada beberapa pesan dari leluhur Sukahaji; (1) jangan merusak hutan rimba apabila ingin makmur; (2) jadilah orang yang takut kepada Allah SWT; dan (3) kudu cageur, bageur bener, pinter, sing angger madep ka gusti nu Maha Suci; serta Negara Tanjung Melayu sing panjang punjung Sukahaji sugih mukti. 2.2. Tujuh Unsur Kebudayaan Masyarakat Sukahaji 2.2.1. Sistem Organisasi Ibukota Kecamatan Sukahaji adalah Desa Sukahaji yang terletak pada jarak 6 Km dari ibukota kabupaten. Luas daerah Kecamatan Sukahaji 56,49 Km2 atau sekitar 4,69% dari luas Kabupaten Majalengka.. Secara geografis, Kecamatan Sukahaji terletak pada ketinggian 125 m di atas permukaan laut, 108°12’ - 108°15’ Bujur Timur dan 6°48’ - 6°56’ Lintang Selatan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: • Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Palasah dan Kecamatan Jatiwangi • Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Maja dan Kecamatan Argapura. • Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Cigasong. • Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Rajagaluh. Kecamatan Sukahaji dipimpin oleh seorang camat yang merupakan utusan dari Kabupaten. Atomi. S.Sos, yang sekarang menjadi camat disana merupakan camat yang ditugaskan oleh Kabupaten yang dikelapali oleh Seorang Bupati. Kecamatan Sukahaji terdiri dari 20 Kelurahan/Desa diantaranya : 1. Babakan Manjeti 2. Bayureja 3. Candrajaya 4. Cikalong 5. Cikeusik 6. Cikoneng 7. Ciomas 8. Garawastu 9. Gunung Kuning 10. Indrakila 11. Jayi 12. Nanggewer 13. Padahanten 14. Palabuan 15. Pasirayu 16. Salagedang 17. Sangkanhurip 18. Sindang 19. Sukahaji 20. Tanjungsari Kelurahan/Desa dikepalai oleh Kepala Desa yang dipilih langsung oleh masyarakat setempat berdasarkan pemilihan yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Kepala Desa mengepalai Rurah yang merupakan kepala blok atau RW (Rukun Warga) dan mengepalai para Ketu RT. Struktur Organisasi Kecamatan Sukahaji Selain itu, ada beberapa organisasi masyarakat yang kegiatannya berada di tingkkat Kelurahan/Desa atau Blok yang masih terdapat pengawasan dari Kepala Kelurahan/Desa atau Blok yaitu, Karang Taruna, DKM, PKK dan lain lain. Karang Taruna mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjalankan struktur pemerintahan di Keluarah/Desa. Adapun peranan Karang Taruna di Keluarah/Desa diantaranya: 1. Wadah aspirasi bagi masyarakat. 2. Penggerak kegiatan Keluarah/Desa yang berhubungan langsung dengan masyarakat. 3. Tempat pembelajaran bagi masyarakat. 2.2.2. Sistem Teknologi Salah satu bagian dari kebudayan manusia yang fungsinya sebagai alat bantu manusia dalam rangka mempertahankan hidupnya adalah teknologi. Kaitannya dengan hasil cipta manusia dan sebagai alat bantu dalam mempertahankan kehidupan, maka teknologi sangat erat hubungannya dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Teknologi bersifat dinamis, artinya terus berkembang dan berubah dengan arah perubahan sesuai tingkat kebutuhan dan keselarasan penggunanya. Artinya, sangat mungkin salah satu teknologi lama tidak dibutuhkan lagi dan diganti dengan teknologi yang baru, atau teknologi yang lama perlu penyempurnaan dalam beberapa hal, namun bisa juga terjadi, teknologi lama masih terus dipakai mengingat relevansinya masih tinggi. Sistem teknologi yang tampak pada masyarakat Sukahaji dapat dikatakan dalam keadaan campuran, yakni penggunaan teknologi lama yang dipadu dengan teknologi modern, bahkan dalam pada beberapa bidang pekerjaan terjadi proses transisi dari sistem teknologi tradisional ke sistem teknologi modern. Dalam penggunaannya, kedua sistem teknologi ini memilki nilai kepentingan yang hampir berimbang, baik pada teknologi untuk mata pencaharisn, peralatan rumah tangga, sarana transportasi maupun komunikasi. Pada bidang pertanian, penggunaan tenaga manusia dengan alat-alat tradisionalnya dipadu dengan teknologi modern. Teknologi modern yang digunakan oleh masyarakat Sukahaji antara lain traktor, pupuk buatan, dan obat insektisida untuk memberantas hama tanaman, serta mesin heuller yang digunakan dalam proses pengolahan padi menjadi beras mengantikan alat penumbuk padi tradisional (lesung dan alu). Masyarakat Sukahaji lebih menyukai menggunakan mesin heuller, karena dinilai lebih cepat dan ekonomis. Sistem teknologi dalam bidang pertanian yang berupa perlatan tradisional, meliputi pacul (cangkul), wuluku (bajak), arit (sabit), parang, garit, dan landak. Sedangkan peralatan dan bahan berteknologi modern antara lain adalah traktor, mesi heuler, dan pupuk buatan. Nama, bentuk, serta fungsi peralatan-peralatan tradisional dalam bidang pertanian relatif sama dengan daerah-daerah lainnya, terutama tatar Sunda, Jawa Barat. Di Sukahaji, mengingat rata-rata bluas lahan sawah milik para petani realtif luas, maka pengplahannya banyak menggunakan teknologi traktor. Guna mempercepat proses pengolahan sawah, biasanya dilakukan oleh beberapa orang secara bergotongroyong atau diupakan kepada buruh tani yang lain. 2.2.3. Sistem Pendidikan Dalam arti lus, pendidikan adalah hidup. Artinya, pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan idividu. Dalam arti sempit, pendidikan dalam prakteknya identik dengan penyekolahan (schooling), yaitu pengajaran formal di bawah kondisi-kondisi yang terkontrol. Sistem pendidikan di Kecamatan Sukahaji terbilang sudah cukup maju. Itu terlihat dari jumlah instansi pendidikan yang terdapat di Kecamatan Sukahaji tersebut. • Taman Kanak-Kanak (TK) : 20 • Sekolah Dasar (SD) : 56 • Sekolah Menengah Pertama (SMP) : 3 • Madrsah Tsanawiah (MTS) : 2 • Sekolah Menengah Atas (SMA) : 2 Dengan demikian, Kecamatan Sukahaji mempunyai sistem pendidikan yang baik dan masyarakatnya sadar akan pentingnya suatu pendidikan bagi kesejahteraan hidup. Jika suatu masyarakat sudah sadar akan pentingnya suatu pendidikan maka hidupnya akan terjamin. Adapun yang merupakan fungsi pendidikan, terutama pendidikan sekolah, seperti berikut: 1) Sosialisasi Nilai dan Norma Di sekolah dalam mensosialisasikan nilai-budaya masyarakat kepada anak didik, maka diajar, dibimbing, dan diarahkan untuk mengikuti pola perilaku orang dewasa seperti cara-cara upacara keagamaan, drama, nyanyian, tarian, atau berperilaku sopan terhadap orang yang lebih tua. 2) Pelestarian Budaya Masyarakat Melestarikan kebudayaan daerah akan lebih efektif apabila dilakukan oleh pendidikan sekolah, di samping mendapat dukungan dari pendidikan luar sekolah yang berupa kursus-kursus kebudayaan daerah melaui mata pelajaran yang diajarkan, berupa mata pelajaran tersendiri, muatan lokal yang diintegrasikan pada mata pelajaran yang relevan atau sebagai lokal kurikuler dari sekolah bersangkuta. 3) Reduksi Budaya Pendidikan sekolah merupakan sarana untuk mengmebnagkan kebudayaan umat manusia, berupa ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa. 2.2.4. Sistem Perekonomian Sebagian besar mata pencaharian utama penduduk Sukahaji, Kabupaten Majalengka adalah sebagai petani. Pertanian sawah di Kecamatan Sukahaji terdapat hampir di setiap desa, khususnya yang berlokasi di daerah pedalaman berbatasan dengan hutan jati. Pada umumnya sistem mata pencaharian tani di Kecamatan Sukahajisama halnya dengan wilayah-wilayah lain di Jawa Barat. Penggarapan sawah menggunakan sistem maro, mertelu,dan merpat. Dalam sistem maro, pemilik dan penggarap masing-masing mendapat setengah bagian dari hasil panen. Biaya pengolahan lahan seperti membalik tanah, menyediakan benih, dan memberi pupuk ditanggung oleh penggarap, sedangkan pajak (PBB) ditanggung oleh pemilik. Menjelang panen pemilik penggarap memberi tahu pemilik kapan akan dilakukan panen. Apabila pemilik tidak bisa menyaksikan proeses panen hingga menjual bhasil panen, maka diwakili kepada penggarap, pemilik tinggal menerima uanggnya. Penggarap sawah yang menggunakan sistem mertelu, pemilik mendapat bagian dua per tiga dan penggarap mendapat setengah bagian dari hasil panen. Selain di bidang pertanian, Kecamatan Sukahaji mempunyai potensi agribisnis yaitu, kehutanan, perikanan, perkebunan, dan peternakan. Kecamatan Sukahaji mempunyai komoditi yang dapat dihasilkan dari berbagai bidang, diantaranya: Albasia Alpukat Alpuket Ambupu Aren Ayam Buras Ayam Pedaging Campuran Ayam Petelur Babi Bambu Bawang Daun Bawang Merah Bawang Putih Belimbing Buncis Cabe Besar Cassiavera Cengkeh Domba Duku / Langsat / Kokosan Durian Durian(kehutanan) Gembas/emes Gurame Ikan (segala Jenis) Itik Jagung Jahe Jambu Air Jambu Biji Jambu Mete Jati Jeruk Jeruk Besar Jeruk Siam / Keprok Kacang Hijau Kacang Merah Kacang Panjang Kacang Tanah Kambing Kangkung Kapok Kapolaga Kedelai Kelapa Dalam Kelapa Hibrida Kelinci Kemiri Kenanga Kentang Kerbau Ketimun Kina Kopi Kubis Kuda Labu Siam Lada Lengkuas Mahoni Mangga Mangga Manggis Manglid Markisa / Konyal Mas Melinjo Mujaer Nangka Nenas Nila Nilem Padi Ladang Padi Sawah Paria/pare Pepaya Petai Petsai / Sawi Petsai / Sawi(pertanian) Pisang Rambutan Rambutan(kehutanan) Salak Sapi Perah Sapi Potong Sawo Sepat Sirsak Sukun Suren Tambak Tawes Tebu Teh Adb 2.2.5. Bahasa Bahasa merupakan simbol ataupun alat untuk melakukan komunikasi. Bahasa yang digunakan di Sukahaji ialah bahasa ibu (Sunda) yang relatif sama dengan daerah-daerah lainnya, terutama dengan tatar Sunda, Jawa Barat. Dalam bahasa Sunda terdapat tingkatan bahasa yang digunakan yang disebut dengan undak-unduk basa, dimana diatur bagaimana berbicara dengan orang lain sesuai dengan tingkatan usia, pranata, dan kekerabatnnya. 2.2.6. Kesenian Seni merupakan kecakapan membuat menciptakan sesuatu yang indah, suatu karya uyang diciptakan dengan kemampuan yang luar biasa. Seperti halnya daerah tataran Sunda lainnya, di Kecamatan Sukahaji kesenian yang berkembang di sana ialah Kesenian Jaipongan yang sudah mendarah-daging dengan masyarakat Sunda. Di Kecamatan Sukahaji, terdapat Paguyuban Seni Jaipongan yang pengelolaannya sangat baik sehingga sampai sekarang masing berjalan. Perlatan yang digunakan dalam kesenian Jaiopongan di Kecamatan Sukahaji, sama halnya dengan kesenian Jaipongan di daerah tataran Sunda lain seperti Kendang, Suling bambu, Rebab, Goong, Kecapi dan lainnya. Agar kesesnian Jaipongan ini tetap ada dan lestari, harus ada peran aktif dari masyarakat serta aparat di sana. 2.2.7. Sistem Religi Sistem religi erat kaitannya dengan konsep-konsep sebagai berikut: - Emosi keagamaan yang meerupakan sentimen masyarakat. - Sistem kepercayaan ; Tuhan, Roh Suci, Dewa, makhluk halus, kitab suci. - Upacara keagamaan - Kelompok agama Teori-teori tentang keberadaan religi pada kehidupan manusia 1. Dasar timbul religi adanya konsep hidup dan mati. 2. Peristiwa mimpi pada saat tidur. Menurut Taylor, terdapat dua alam dalam religi 1. Soul, melekat pada saat hidup (jiwa). 2. Spirit, bagian lain dari manusia (roh) Menutur Maret, religi berasal dari peristiwa yang luar biasa sehingga menjadi religi. Menurut E.Durkheim, religi itu berasal dari firman Tuhan. Van Genep. Crisis Rites Sebagian besar masyarakat Sukahaji merupakan pemeluk agama Islam yang kental. Sehingga di Kecamatan Sukahaji terdapat organisasi Islam yang berkembang di sana seperti Muhammadiyah dan PERSIS. Walaupun demikian, di bagian desa yang pedalaman masih adanya kepercayaan animisme yang percaya terhadap sosok Buyut Cikeusik yang selalu dipuja-puja. Masyarakat di Kecamatan Sukahaji, khususnya masyarakat Cikeusik menganggap Buyut Cikeusik bisa memenuhi segala permintaan dan permohonannya. KESIMPULAN Kehadiran Syekh yang berupaya menyebarkan ajaran Islam, ternyata mendapat perlawanan dari pangeran Sindang Entang (Sukawetan). Bukti pernah terjadi pertempuran, yaitu dengan adanya Sedekan di pinggir Sungan Cikeuruh, Mojok di sudut Desa Cikeusik, makam Cagedang bekas Masuk Bumi, dan Munjul (Desa Munjul sekarang), sehingga Pangeran Sindang Entang tidak kuat dan menyerah, yang akhirnya menyukai Syekh Haji Abdullah, bahkan Syekh dijadikan sebagai menantu Pangeran. Dari perasaan suka itulah Tanjung Melayu dinamakan Sukahaji. Tetapi, Pangeran merasa keberatan apabila ia diislamkan oleh Syekh , kecuali oleh Raja Cirebon, ia tidak ke Sukahaji tetapi ke Sukaraja sekarang, dan karena itulah tempat tersebut dikenal dengan nama Desa Sukaraja. Kecamatan Sukahaji dipimpin oleh seorang camat yang merupakan utusan dari Kabupaten. Sistem teknologi yang tampak pada masyarakat Sukahaji dapat dikatakan dalam keadaan campuran, yakni penggunaan teknologi lama yang dipadu dengan teknologi modern, bahkan dalam pada beberapa bidang pekerjaan terjadi proses transisi dari sistem teknologi tradisional ke sistem teknologi modern. Sistem pendidikan di Kecamatan Sukahaji terbilang sudah cukup maju. Itu terlihat dari jumlah instansi pendidikan yang terdapat di Kecamatan Sukahaji tersebut. Sebagian besar mata pencaharian utama penduduk Sukahaji, Kabupaten Majalengka adalah sebagai petani. Bahasa merupakan simbol ataupun alat untuk melakukan komunikasi. Bahasa yang digunakan di Sukahaji ialah bahasa ibu (Sunda) yang relatif sama dengan daerah-daerah lainnya, terutama dengan tatar Sunda, Jawa Barat. Seperti halnya daerah tataran Sunda lainnya, di Kecamatan Sukahaji kesenian yang berkembang di sana ialah Kesenian Jaipongan yang sudah mendarah-daging dengan masyarakat Sunda. Sebagian besar masyarakat Sukahaji merupakan pemeluk agama Islam yang kental. Sehingga di Kecamatan Sukahaji terdapat organisasi Islam yang berkembang di sana seperti Muhammadiyah dan PERSIS. DAFTAR PUSTAKA • Sumber Buku Nasiku. (1995). Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Koentjaraningrat. (2003). Pengantar Antropologi-Jilid I. Jakarta: PT Asdi Mahasatya. Panuju, Redi. (1994). Ilmu Budaya Dasar dan Kebudayaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Pasya, R. Gunawan Kamil. (2000). Integrasi Masyarakat Indonesia. Bandung: Buana Nusa. Syaripudin, Tatang. (2006). Landasan Pendidikan. Bandung: Sub Koordinatro MKDP Landasan Pendidikan, FIP, UPI. • Sumber Internet http://222.124.159.131/cms-mjlk-0.5.0 rc3/index.php?mod=pag&act=listPagMap&do=0&ID=360010010090&cms_majalengka_0_6_0=9613d1697535a69dc457faadee42e9ed http://222.124.159.131/cms-mjlk-0.5.0-rc3/index.php?mod=public&act=content&do=0&ct=2&cnt=186&cms_majalengka_0_6_0=bf876afdc7645855957762072273fd08 http://id.wikipedia.org/wiki/Sukahaji,_Majalengka LAMPIRAN Peta Wilayah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar